Jumat, 16 April 2010

Closing Film:CATS

Film Penutup (khusus undangan)
Closing film (Invitation Only)
Selasa/Tuesday,  April 27,  2010,  7  PM, @ Salihara
Koyangi-Deul (Cats)
Kim Ji-Hyun, South Korea, 2008, fiction, 62’, Korean with English subtitle
Cats was not made first and foremost as a contribution to Korean film culture, so it’s a big bonus that it’s as likeably cinematic as it is. It comes from the feminist group Unni-Network, and is designed to air some of the main issues--sexual, marital, psychological and related to questions of fertility--which will be of interest to young Korean women. It crosscuts between three protagonists whose lives intersect only briefly: the 28-year-old Sheera, who makes and sells costume jewelry by day, works in a bar in the evenings and has no intention of getting married; Simjang, who despairs of finding a job and begins to doubt her girlfriend Heopa’s fidelity; and a woman dentist who wants to get pregnant before it’s too late but can’t find a viable sperm-donor. Thanks to writer-director Kim Ji-Hyun’s skills and credibly natural performances from the entire cast, the result is perhaps the most refreshingly frank and uncomplicated account of the complications of women’s lives since Go Fish. 

Vancouver International Film Festival 2009

Cats tidaklah dibuat pertama-tama dan terpenting sebagai sumbangan bagi budaya film Korea, namun film ini menjadi bonus besar ketika ia ternyata benar-benar menjadi film yang bagus. Film ini datang dari kelompok feminis Unni-Network dan dirancang untuk mengangkat isu-isu penting seperti seks, perkawinan, pertanyaan-pertanyaan psikologis dan yang terkait dengan isu fertilitas –yang akan diminati perempuan muda Korea. Film ini bercerita tentang tiga tokoh: Sheera, 28 tahun, yang membuat dan menjual barang perhiasan setiap hari, bekerja di bar pada malam hari dan tidak berniat menikah; Simjang, putus asa mencari pekerjaan dan mulai ragu akan kesetiaan pacarnya Heopa; dan seorang dokter gigi perempuan yang ingin hamil sebelum terlambat tetapi tidak menemukan donor sperma yang cukup baik. Berkat keterampilan penulis sekaligus sutradara Kim Ji-Hyun dan penampilan alami dari keseluruhan aktor, film ini barangkali merupakan salah satu film yang paling terus-terang dan sederhana tentang kerumitan hidup perempuan setelah film Go Fish.  

Selasa, 23 Maret 2010

Selasa, 16 Maret 2010

OPENING FILM: CLARA

In conjunction of V film festival, Goethe-Institut presents:

Film Pembuka (khusus undangan)
Opening film (Invitation Only)
Rabu / Wednesday,  April 21,  2010,  7  PM, @GoetheHaus
CLARA 
Helma Sanders-Brahms, Germany, 2008, fiction, 109, German with English subtitle


In 1850. Robert, his wife Clara and their five children settle down in Dusseldorf where he has been accepted as a musical director. For the resourceful musician, who is considered more as one of the world’s greatest composers than a conductor, it turns out to be a bad decision. Nor is it a happy period for Clara, who is reduced to the role of a housewife instead of that of an acclaimed concert pianist performing throughout Europe to sold-out halls. That is, until she meets the young, brilliant Johannes Brahms. Clara and Johannes fall for one another. Robert, who is sick and suffering from severe depression, attempts to drown himself in the Rhine River. His life is saved and he commits himself to a sanatorium. The relationship between Brahms, who cares for the family financially, and Clara grows even more intense. When Robert dies two years later, all the obstacles seem to have disappeared for them. Clara, however, refuses to marry again. Robert’s shadow still weighs too heavily on her. But she will go on playing his and Johannes’ music in the world’s concert halls, expressing her feelings for him and for the moments of darkness they both experienced with Robert.

Tahun 1850 Robert dan istrinya Clara beserta kelima anak mereka pindah ke Duesseldorf. Robert baru saja diterima bekerja sebagai direktur musik. Bagi pemusik hebat seperti Robert, yang lebih layak disebut komposer hebat dunia daripada seorang konduktor, keputusan ini ternyata merupakan kesalahan. Masa ini juga bukanlah masa yang membahagiakan bagi Clara karena di sini dia menjadi ibu rumah tangga biasa daripada seorang pianis ulung yang telah melakukan pertunjukan di seluruh Eropa. Sampai akhirnya dia berjumpa dengan Johannes Brahms yang muda dan cerdas. Clara dan Johannes saling jatuh cinta. Robert yang sakit dan menderita depresi berat, berupaya untuk menenggelamkan dirinya di sungai Rhine. Dia berhasil diselamatkan dan mau dirawat di sanatorium. Sementara itu hubungan antara Brahms, yang akhirnya menyokong keuangan keluarga ini dan Clara semakin berkembang. Ketika Robert meninggal dua tahun kemudian, tampaknya semua penghalang bagi hubungan mereka telah lenyap. Namun, Clara menolak untuk menikah kembali. Bayangan Robert masih berat menekannya. Tapi Clara akan terus memainkan musiknya dan musik Johannes di konser kelas dunia, satu cara mengungkapkan perasaannya kepada Johannes and demi masa-masa kegelapan yang mereka alami bersama Robert.     

Minggu, 14 Maret 2010

V FILM FESTIVAL 2010:Fringe Event



DISKUSI / DISCUSSION
Kamis, 22 April 2010, 4PM @Serambi Salihara
Thursday, April 22, 2010, 4PM @Serambi Salihara

FILM, TUBUH PEREMPUAN, DAN SENSOR
FILM, WOMEN’S BODIES, AND THE CENSOR
Pembicara: Novi Kurnia dan Intan Paramaditha 
Moderator: Veronika Kusumaryati
Open to the public & FREE ADMISSION

Berbicara tentang sensor dalam dunia film, maka mayoritas aspek yang ”digunting” adalah tema atau gambar tubuh perempuan. Salah satu contoh: film dokumenter karya Ucu Agustin, Perempuan: Kisah di Balik Guntingan (Kalyana Shira, 2008), menampilkan adegan-adegan penyensoran dalam Perempuan Punya Cerita (Kalyana Shira, 2008). Penyensoran itu menggunakan dalih moralitas, adat, karakter bangsa, dan agama. Mengapa tubuh perempuan sering menjadi sasaran sensor dalam film? Ada apa dengan tubuh perempuan? Ikuti diskusinya bersama Novi Kurnia, dosen Jurusan Komunikasi Fisipol UGM dan mahasiswa doktoral di Department of Women’s Studies, Flinders University, Australia dan Intan Paramaditha, mahasiswa doktoral di departemen Cinema Studies, New York University, Amerika Serikat. Diskusi akan dipandu oleh Veronika Kusumaryati, pengaji dan kurator film. Acara ini adalah bagian dari V Film Festival dan disponsori oleh Hivos. 

In discussing censorship in film, most of what is cut involves  themes or pictures of women’s bodies. One example: the documentary film by Ucu Agustin, Perempuan: Kisah di Balik Guntingan (Kalyana Shira, 2008), shows scenes that were censored from the film Perempuan Punya Cerita (Kalyana Shira, 2008). Censorship uses the pretexts  of morality, customs, national character, and religion.  Why do women’s bodies often become the target of film censors?  What’s the matter with women’s bodies?  Join in the discussion with Novi Kurnia, lecturer in Communications in the Socio-political Department  of UGM and a doctorial candidate in the Departent of Women’s Studies at Flinders University, Australia and Intan Paramaditha, doctorial candidate in Cinema Studies, New York University, U.S.  Fim critic and curator Veronika Kusumaryati will moderate the discussion.  This event is part of the V Film Festival and is sponsored by Hivos.


WORKSHOP
Sabtu – Minggu, 24-25 April 2010, 10AM @Serambi Salihara
Saturday – Sunday, April 24-25, 2010, 10AM @Serambi Salihara
Fasilitator: Aquino Hayunta, Chika Noya, Afra Ramadhan
WORKSHOP YOUTH AND DIVERSITY “PLURALISME DI TENGAH ANAK MUDA”

VFF 2010 mempersembahkan isu pluralisme, keberagaman dan identitas anak muda melalui berbagai program pemutaran film. Pluralisme yang tidak bisa dilepaskan dari demokrasi menjadi rentan ketika negara beserta institusi-institusi di bawahnya turut campur dalam wilayah agama. Bukannya mengakomodasi pihak minoritas dan mendukung pluralisme, negara justru memberi kesempatan pada kalangan fundamentalis  untuk menegakkan kepentingannya. 
Kegiatan ini berupa workshop yang akan diikuti oleh 20 peserta dari latar belakang sekolah yang beragam dan akan berlangsung selama dua hari. Dalam workshop ini mereka akan mendapatkan materi mengenai isu pluralisme dan isu terkait, serta penulisan naskah dan produksi film. Peserta diharapkan dapat memahami isu pluralisme, demokrasi dan HAM dalam kehidupan remaja sekarang, dan bagaimana mereka sebagai agent of change dapat berkontribusi bagi perubahan komunitas remaja yang berperspektif kemanusiaan dan keberagaman.
VFF 2010 presents issues of pluralism, diversity and identity of young people through various program such as film’s screening. Pluralism can’t be separated from democracy becomes vulnerable when the state and its institutions under interfere in the religious area. Rather than accommodate and support the minority pluralism, instead of allowing the fundamentalists to enforce their interests.
This workshop will be attended by 20 participants from any school with a different background and will be held for two days. In this workshop they will find material on the issue of pluralism and related issues, as well as script writing and film production. Participants are expected to understand the issues of pluralism, democracy and human rights in their life right now, and how they as an agent of change can contribute to changes in adolescent community and diversity humanitarian perspective.

DISKUSI / DISCUSSION
Sabtu, 24 April 2010, 2.15PM @GoetheHaus
Saturday, April 24, 2010, 2.15PM @GoetheHaus  

FGD SUTRADARA PEREMPUAN INDONESIA 
Mencari Ruang Pertukaran dan Diskusi Sutradara Perempuan
FGD INDONESIAN WOMEN DIRECTOR: 
Looking for Exchange Space and Discussion Forum for Women Director

Sama seperti tahun lalu, VFF 2010, berusaha mendukung forum diskusi sutradara perempuan, untuk pembelajaran dan kerjasama antar para sutradara perempuan. Tujuan dari diadakannya focus group discussion ini adalah memetakan berbagai persoalan yang dihadapi oleh sutradara perempuan dalam membuat karya film yang mengusung permasalahan perempuan dan atau menggunakan perspektif perempuan. Diskusi khusus ini akan difasilitasi oleh Novi Kurnia, Dosen Universitas Atma Jaya dan sedang melakukan penenelitian tentang film-film yang disutradarai oleh sutradara perempuan. FGD ini akan dihadiri kurang lebih 20 sutradara perempuan indonesia.
Almost similar like last year festival, VFF 2010, has always supported discussion forum for women directors, to gather lesson learn and collaboration work between the women directors.  The goal for this focus group discussion is to map various problem faced by the women directors, especially in producing women films with women issues or with a women perspective. This special discussion will be facilitated by Novi Kurnia, a lecturer from Gajah Mada University, who is working on a thesis on women films by women directors. The discussion will be attended by about 20 women directors from Indonesia.

Kamis, 11 Februari 2010

IDENTITY AND YOUTH... Upcoming V FILM FESTIVAL 2010

COMING SOON

V FILM FESTIVAL 2010

21-27 April 2010

IDENTITY AND YOUTH

Please join us for various films from all over the world.

Venues at: Komunitas Salihara, Goethe Institute and Kineforum TIM

Contact:
vfilmfest@gmail.com

See you all there....

(Detail coming in early March 2010)

Selasa, 24 Februari 2009

Jurnal Perempuan, "Pencerahan dan Kesetaraan"

Berawal dari kepedulian akan begitu minimnya bacaan tentang feminisme di Indonesia, maka pada tahun 1995, maka Gadis Arivia bersama Ida Dhani dan Asikin Arif mendirikan sebuah organisasi bernama Yayasan Jurnal Perempuan (YJP).

Dalam perkembangannya YJP kian serius dalam memikirkan isi dan kemasan Jurnal Perempuan yang hingga akhir Desember 2008 telah mencapai edisi ke 60 dan terdistribusikan hampir di seluruh toko buku ternama di Indonesia. Selanjutnya di tahun 1998 YJP menerima tawaran dari Internews Indonesia untuk mencoba sebuah bidang yang baru dan penuh tantangan yakni memproduksi program radio bernama Program Radio Jurnal Perempuan (RJP) yang mengangkat berbagai isu dan persoalan perempuan khususnya di tingkat lokal.

Program Radio Jurnal Perempuan hingga kini tetap mengudara setiap minggunya dan menyapa pendengar di Indonesia bersama 180 stasiun radio mitra kerja YJP di seluruh pelosok tanah air. Hingga kini RJP telah menghasilkan lebih dari 400 program yang menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Selain RJP, Jurnal Perempuan Online atau lebih dikenal JPO, mencoba meliput berita harian khas perempuan atau yang menyuarakan isu perempuan dan kesetaraan, juga menampilkan tulisan dan kajian artikel perempuan ataupun refleksi, dengan membuka kesempatan pembaca untuk ikut berpartisipasi menulis.
Tantangan dan kesempatan kian hari semakin menarik untuk dijajaki, sembari terus menyuarakan kesetaraan gender, ucapan terima kasih tak terhingga kepada berbagai pihak yang selama ini tak lelah memberikan dukungan kepada YJP apaun bentuk dukungan itu, terbukti akhirnya itu sangat membantu YJP agar tetap eksis hingga 8 tahun kini. Selanjutnya pada tahun 2000 YJP kembali menjajal bidang baru yakni pembuatan film dokumentasi. Divisi ini selanjutnya dinamai Video Jurnal Perempuan yang hingga saat ini telah berhasil memproduksi 3 film dokumentasi yakni “Kekerasan terhadap Perempuan”, “Perempuan di Wilayah Konflik” serta “Perdagangan Anak dan Perempuan”.

Divisi Majalah CHANGE (majalah gratis untuk anak muda), menjadi program baru YJP yang sangat berkomitmen ingin melibatkan generasi muda, untuk bersama belajar dan mengerti isu perempuan juga isu gender, dengan gaya penuturan yang lebih populer. Berbagai isu pengantar seperti HAM, isu lingkungan, demokrasi dan lainnya juga dicoba diintegrasikan dalam bahasa anak muda yang segar.

Sekarang ini dengan struktur terbaru paska Rencana Strategis, YJP dibagi menjadi 3 Program Besar yaitu Program Media (menerbitkan reguler Jurnal Perempuan, Radio Jurnal Perempuan, JP Online dan CHANGE magazine), Program Riset, Kajian dan Jaringan (penelitian, kerjasama integrasi pendidikan dan gender, advokasi dan perluasan jaringan) dan Program Pengembangan (membawahi promosi, ekspansi produk, toko buku Perempuan, event promosi dll). Diharapkan dengan struktur baru ini YJP menjadi lebih fleksibel dan bisa memperluas cakupan kerjanya.

Berbagai kampanye yang diselenggarakan oleh YJP antara lain adalah kampanye untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan tiap tahunnya dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, kampanye stop perdagangan anak perempuan, training hak-hak perempuan, training gender untuk universitas, pembuatan modul-modul berperspektif gender, training jurnalisme berperspektif gender yang diselenggarakan tiap tahun, dan lain sebagainya. Meski banyak sekali hal yang harus dilakukan oleh YJP, namun kami yakin sama halnya rekan-rekan kami di LSM perempuan lainnya yang percaya bahwa suatu saat nanti masyarakat berkesetaraan gender akan segera terwujud.

Jumat, 20 Februari 2009

Komunitas Salihara

Komunitas Utan Kayu, sebuah kantong budaya di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta Timur, dibentuk oleh sebagian pengasuh Majalah Tempo sekitar setahun setelah majalah itu dibredel pemerintah pada 1994. Selain itu komunitas ini juga dibentuk oleh sejumlah sastrawan, intelektual, seniman dan wartawan. Komunitas ini terdiri atas Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Galeri Lontar, Teater Utan Kayu (TUK), Kantor Berita Radio 68H dan Jaringan Islam Liberal - tiga di antaranya bergerak di lapangan kesenian, yaitu Galeri Lontar, Teater Utan kayu dan Jurnal Kalam (yang secara terus menerus berupaya menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual, baik melalui pertunjukan kesenian, pameran seni rupa, ceramah dan diskusi tentang beragam topik, maupun lewat tulisan yang diterbitkan Kalam.

Komunitas Utan Kayu juga sudah terbiasa mengelola kegiatan berskala internasional, di antaranya Jakarta International Puppetry Festival (2006), Slingshot Film Festival (2006) dan International Literary Biennale - yang kali keempatnya berlangsung pada Agustus 2007.

Sayap kesenian Komunitas Utan Kayu, kini sudah berumur sekitar sepuluh tahun, bertekad meneruskan dan mengembangakan apa yang selama ini telah dicapai. Demi menampung perluasan aktivitas tersebut, para pendir dan pengelolanya lantas mengambil prakarsa membangun komplek Komunitas Salihara.

Berdiri di atas sebidang tanah seluas sekitar 3.060 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Komunitas Salihara memiliki tiga unit bangunan utama, yaitu Teater Salihara, Galeri Salihara serta ruang perkantoran dan wisma.

Teater Salihara dapat menampung hingga 252 penonton. Ini merupakan gedung teater model black box pertama di Indonesia. Berdinding kedap suara, teater ini dilengkapi ruang rias serta segala peralatan tata panggung, tata ruang dan tata cahaya modern. Bagian atap Teater Salihara juga dirancang sebagai teater terbuka.

Galeri Salihara, berbeda dari kebanyakan bangun galeri umumnya, mengambil bentuk silinder dengan lingkaran sedikit oval. Ruang kosong dengan dinding melingkar tanpa sudut dan tanpa batas akan memberikan perspektif pandang yang lebih luas. Pusat jajan berikut aneka makanan dan minuman dengan pemandangan terbuka yang nyaman terletak di bawah bangunan ini.

Tak kalah unik adalah unit pembangunan empat lanta untuk perkantoran, perpustakaan, wisma dan toko buku. Lantai paling atasnya sebagian menjorok dan melayang di atas atap gedung teater, sedang paling bawahnya sebagian melesap ke dalam tanah.

Dari segi rancang bangun, komplek Komunitas Salihara dapat dipandang sebagai sebuah percobaan arsitektur yang menarik. Ia karya tiga arsitek dengan kecenderungan masing-masing. Adi Purnomo, Marco Kusumawijaya dan Isandra Matin Ahmad - masing-masing merancang gedung teater, gedung galeri dan gedung perkantoran, kemudian duduk bersama untuk memadukan rancangan ke dalam visi yang sama : membangun rumah baru bagi kesenian dan pemikiran yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Komunitas Salihara akan tumbuh bersama khalayak yang makin cerdas, terbuka dan demokratis. Para pengelolanya percaya bahwa kepiawaian di bidang seni adalah investasi yang tak ternilai bagi pertumbuhan anak-anak bangsa sejak hari ini. Khalayak adalah bagian sangat penting dalam menyuburkan kepiawaian tersebut.


KONTAK :
Jl.Salihara No.16 Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520
No. Telepon : 021 789 1202 ext. 303 (Rama)
Fax : 021 781 8849
Email : rama@salihara.org [Public Relations]
URL : www.salihara.org

Kalyana Shira Foundation

Dibentuk pada September 2006, Kalyana Shira Foundation merupakan lembaga yang berdiri atas dasar kepedulian pada masalah perempuan, anak-anak dan kaum marjinal di Indonesia. Selain itu, Kalyana Shira Foundation juga dibentuk untuk kepedulian atas isu-isu perempuan dan isu-isu lain yang menjadi marjinal dalam industri film Indonesia. Pasalnya, dalam stagnasi UU Perfilman di Indonesia saat ini, semakin kecil kemungkinan untuk bisa memproduksi dan menayangkan film-film dengan topik sensitif dan marjinal.
Meskipun masih berusia muda, individu-individu yang terlibat di dalam Kalyana Shira Foundation telah mendedikasikan karyanya untuk menghidupkan kembali industri film di Indonesia. Nia Dinata, pendiri dan ketua Kalyana Shira Foundation, adalah sosok yang dikenal luas di kalangan perfilman Indonesia dan internasional. Karya-karyanya selalu menyentuh isu perempuan dan kelompok yang termarjinalkan.
Film Ca Bau Kan (tayang pada 2002) merupakan debut film fitur Nia. Film ini mengangkat kisah minoritas perempuan Cina pada masa penguasaan Belanda di Indonesia. Cerita ini diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama dan menjadi film pertama pada era pasca-reformasi yang mengambil fokus kehidupan komunitas Cina. Ca Bau Kan menerima penghargaan Best Promising New Director dan Best Art Director di Asia Pacific Film Festival, Seoul, Korea 2002.
Film keduanya yang berjudul ‘Arisan!’ (tayang pada 2003) merupakan sebuah drama komedi satir yang bercerita tentang permasalahan perempuan dan gay di kalangan kosmopolitan Jakarta. ‘Arisan!’ menerima berbagai penghargaan dari festival dalam negeri dan Best Picture, juga Best Audience Award di Cinemasia Film Festival, Amsterdam 2004. Karya terbarunya film ‘Berbagi Suami’ (tayang tahun 2006) menggulirkan isu kontroversial tentang kaum lesbian, dan poligami di tiga strata sosial yang berbeda di Indonesia.

Misi Kalyana Shira Foundation:
1. Mengedepankan dan menguatkan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan melalui medium audio visual.
2. Mengusahakan pemerataan hak dan meningkatkan kesejahteraan sosial untuk masyarakat Indonesia melalui medium audio visual .
3. Berpartisipasi aktif dalam menghilangkan bentuk-bentuk diskriminasi melalui medium audio visual.
4. Memajukan perfilman Indonesia dengan meningkatkan jumlah tenaga ahli dalam bidang kerja film.
Dalam mencapai misi nya, aktifitas Kalyana Shira Foundation meliputi:
1. Memfasilitasi kegiatan produksi, dan distribusi film dengan tema-tema demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan gender, isu-isu perempuan, dan tema-tema marjinal.
2. Memfasilitasi dan menyelenggarakan aktifitas pendidikan film meliputi festival film internasional, pelatihan, workshop, seminar & diskusi, dan penayangan film.
3. Memfasilitasi dan menyelenggarakan kegiatan kerjasama produksi dengan lembaga-lembaga lain dari dalam dan luar negeri.

KONTAK :
Kalyana Shira Foundation
Sandy Monteiro
Jl. Bunga Mawar No. 9, Pangeran Antasari
Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Indonesia
Telp: 021-7503223
Fax: 021-7694318
e-mail: kalyanashirafound@gmail.com
website: www.kalyanashirafound.org

Fringe Events

Selain pemutaran film, VFilmFestival juga akan mengadakan acara-acara lain yang terkait dengan isu perempuan. Di antaranya adalah :

Diskusi Youth and Sexuality
Waktu : Minggu 26 April 2009, 12.00 WIB
Tempat : Komunitas Salihara

Dalam lima tahun terakhir, perkembangan film tentang anak muda semakin intens. Berbagai film yang telah diluncurkan memperlihatkan sisi kehidupan perempuan dengan berbagai cara. Misalnya seperti yang terlihat dalam film fenomenal - yang membangkitkan dunia sinema Indonesia, yaitu Ada Apa dengan Cinta, Catatan Akhir Sekolah sampai film Mengejar Matahari.

Dengan banyaknya film-film yang mengangkat isu perempuan, maka mencoba melihat perspektif gender dalam film remaja akan menjadi sebuah bahan diskusi yang menarik. Selain itu, diskusi ini juga akan mencoba melihat perkembangan remaja dalam film Indonesia dewasa ini dan prospek-prospek yang tersedia bagi orang muda dalam proses kreatif di film.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Diskusi Feminist Film Theory
Waktu : Minggu 26 April 2009, 15.00 WIB
Tempat : Komunitas Salihara

Representasi dan seksualitas perempuan dalam film-film Indonesia masih memerlukan perhatian lebih bagi generasi sineas saat ini. Meskipun banyak film yang telah menjadikan perempuan sebagai sumber atau ide cerita, namun sebagian besar masih menempatkan perempuan sebagai objek, bukan subjek seksualitas.

Feminist Theory mencoba melihat film dalam perspektif feminis, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan perfilman Indonesia dewasa ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Workshop Produksi Film dengan Perspektif Feminis

Waktu : Sabtu 25 April 2009, 10.00 WIB

Tempat : Komunitas Salihara

Workshop ini akan menelaah bagaimana sebuah produksi film Indonesia bisa memiliki nafas keberpihakan terhadap masalah-masalah perempuan di Indonesia dan bukannya melestarikan penindasan terhadap perempuan atau stereotip tentang perempuan. Hal ini harus disadari oleh para produser, baik produser laki-laki atau pun produser perempuan.



Untuk informasi lebih lanjut, hubungi panitia atau terus pantau perkembangan VFilmFestival di blog ini.

Kamis, 19 Februari 2009

V Film Festival 2009

Hari kelahiran Kartini, pejuang persamaan hak dan kesetaraan perempuan Indonesia selama ini selalu dirayakan dengan simbol-simbol domestifikasi perempuan yang jauh dari pemikiran Kartini sebagai perempuan yang kritis terhadap isu hak perempuan dan kolonialisme. Saat ini perjuangan perempuan diteruskan dengan berbagai aktivisme dan eksistensi nyata dalam ruang publik, salah satu diantaranya adalah berkarya dengan media film.


Dengan berkembangnya era informasi, perubahan social dan persilangan budaya, masyarakat berkembang menjadi masyarakat yang lebih kritis dan sangat membutuhkan wawasan baru terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Isu perempuan juga menjadi hal penting yang sering diperdebatkan di ruang public, baik itu berkaitan dengan masalah kekerasan terhadap perempuan, kepemimpinan, politik, kebijakan pemerintah yang banyak diantaranya bias gender, seperti syariah Islam, UU pornografi dan lainnya. Masyarakat membutuhkan informasi baru, hiburan baru dan juga mulai menyadari kebutuhan akan ruang-ruang yang alternative dalam menghadapi tuntutan perkembangan jaman. Media film menjadi jembatan yang cukup penting dalam melihat perspektif perempuan dengan kreatif.


Semakin pesatnya perkembangan perfilman di Indonesia membawa banyak nama sutradara-sutradara perempuan seperti Nia Dinata, Nan T Achnas, dll yang mampu mengeksplorasi isu perempuan dengan lebih popular ke layar lebar. Sejak tahun 1998, cukup banyak film bertemakan isu perempuan dan didukung oleh beberapa sineas muda yang membuat berbagai dokumenter tentang isu perempuan.


Dengan berkembangnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap film dengan tema isu perempuan, maka kami berinisiatif menyelenggarakan Festival Film Perempuan Internasional Pertama, sebagai suatu ajang penting dimana masyarakat bisa menikmati karya sineas perempuan dari seluruh dunia bertutur dan bercerita tentang dan untuk perempuan.








Tujuan


· Menyebarkan isu hak asasi manusia dalam perspektif perempuan ke masyarakat luas melalui media film.
· Mengenalkan film-film internasional yang bertemakan perempuan, seksualitas dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat
· Memberi kesempatan bagi pekerja film perempuan untuk mengaktualisasikan karyanya dalam festival film perempuan yang rencananya akan dibuat reguler tiap tahun.
· Meningkatkan kolaborasi antara aktivis perempuan dan pekerja seni dalam menyelenggarakan perayaan hari Kartini sebagai momentum pembebasan perempuan.


Kalender Acara dan tempat
Tanggal pelaksanaan festival: 21 – 26 April 2009, komunitas Salihara, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (lokasi dekat dengan kampus UNAS).


Daftar Kegiatan / Program Festival


Pembukaan Festival: 21 April 2009, jam 19.30, tempat Salihara.
Kegiatan utama; pemutaran film-film perempuan karya sutradara perempuan dari dalam dan luar negeri. 21 – 26 April 2009, di Salihara
Kegiatan terkait: diskusi-diskusi film dan workshop produksi film
Penutupan Festival, 26 April 2009, di Salihara.